News Update :

Dari New York, Juara Siap Rambah Pasar Indonesia

Penulis : Citey Soe on Monday, October 21, 2013 | 11:52 PM

Monday, October 21, 2013

Jakarta - Juara, merek perawatan kulit asal New York, Amerika Serikat (AS), yang dikreasikan berdasar tumbuh-tumbuhan berkhasiat dari Indonesia akan merambah pasar Tanah Air.


Juara yang berdiri sejak tahun 2005 terinspirasi oleh tumbuhan Indonesia, termasuk pengetahuan yang diwariskan turun-temurun, seperti jamu dan ritual kecantikan kerajaan kuno di Tanah Air.


Menurut Metta Murdaya, salah satu pendiri Juara, pihaknya mengembangkan produk berbahan dasar botani Indonesia karena keeksotisannya. 'Jamu itu unik dan powerful. Di AS, banyak orang yang tertarik menggunakan bahan-bahan yang eksotis untuk kecantikan. Kami pun ingin mengembangkan produk yang mengangkat heritage tetapi tetap menjunjung prestige. Kami percaya, menggunakan bahan-bahan jamu, kulit bisa menjadi juara melawan masalah yang jahat untuk kulit, seperti radikal bebas,' jelas Metta.


Ditekankan Metta, kunci dari keberhasilan produknya adalah ketertarikan masyarakat asing terhadap jamu. 'Jamu itu sangat exciting bagi orang asing. Kekayaan dan manfaat kecantikan tumbuhan di Indonesia sangat luar biasa. Ada romantisme di balik jamu,' tutur perempuan yang sudah 30 tahun lebih menetap di AS itu.


Produk Juara beragam, dari perawatan pelembap kulit wajah dan tubuh, masker wajah, krim mata, hingga minyak parfum. Semuanya terbuat dari ekstrak tumbuhan yang kerap ditemukan di ritual kecantikan Indonesia, seperti kemiri, kunyit, kopi, dan sebagainya. Namun, yang diambil adalah ekstraknya kemudian dicampur dengan zat-zat yang efektif untuk kecantikan kulit.


Meski cerita dan jiwa Juara berasal dari Indonesia, namun, proses pembuatan tidak dibuat di sini. 'Juara adalah produk yang berakar budaya Indonesia, tetapi diproduksi di AS. Kami memadukan produk alami dengan sains. Masyarakat asing lebih suka produk yang sudah melewati uji klinis. Sehingga untuk urusan pengetesan dan lebih murah, produknya diproduksi di AS karena tetap harus melewati tes kualitas yang ketat di sana untuk bisa dipasarkan,' jelas Metta.


Empat perempuan yang memulai bisnis ini sebagai sampingan, yakni Metta Murdaya, Yoshiko Roth-Hidalgo, Jill Sung, dan Tami Chuang kini menghabiskan waktu kerjanya total untuk Juara.


Juara pertama kali dikenalkan kepada masyarakat dan calon pembeli delapan tahun lalu lewat teknik penjualan dari pintu ke pintu. Seiring waktu, produknya mulai dikenal dan sudah digunakan oleh banyak orang, termasuk selebriti Hollywood, seperti Juliana Marguilles, Brooke Shields, dan sebagainya. Bahkan pihaknya didekati oleh perusahaan penerbangan AS, Delta Airlines untuk menaruh sampel produk Juara bagi penumpang kelas satu.


Kini, Juara telah memenangkan banyak hati, baik di AS maupun mancanegara, termasuk Indonesia. Juara sudah masuk ke Indonesia khususnya di Hotel Tugu, yakni hotel bintang lima di Bali. Diakui Metta, pihaknya sudah mulai melirik beberapa department store Indonesia untuk menjual produk-produknya. 'Namun saat ini kami sudah bisa didapatkan di beberapa toko online, juga bisa lihat produk kami di situs www.juarabeauty.com,' tuturnya.


Juara Skincare diperkenalkan kembali ke wartawan Indonesia saat menjadi sponsor untuk peragaan busana Ardistia New York di ajang Jakarta Fashion Week 2014. 'Saya kenal Ardistia di NY. Kami bertemu di NY Fashion Week. Kami memiliki visi, style, dan target yang sama. Juara melihat Ardistia sebagai 'Perempuan Juara', karena ia stylish, kerja keras, dan menjalankan passion serta mimpinya,' kata Metta Murdaya, pendiri Juara Skincare, di tenda Jakarta Fashion Week, Senin (21/10).


comments | | Read More...

"Sokola Rimba" Angkat Kisah Perjuangan Suku Anak Dalam ...

Awalnya Sokola Rimba adalah judul sebuah buku yang merupakan catatan pengalaman Butet Manurung, mengajar di Hutan Bukit Duabelas, Jambi. Namun rupanya, jalan cerita yang menarik, membuat Miles Film mengubahnya dalam bentuk audio video.


Riri Riza bertindak sebagai penulis dan sutradara, sementara Mira Lesmana menjadi produser. 'Duet maut' itu kerap menghasilkan karya-karya yang berkualitas.


Film Sokola Rimba mengisahkan interaksi Butet Manurung dengan anak-anak Rimba Hutan Bukit Duabelas, Jambi, yang lucu dan cerdas, serta pertemuan Butet yang mengesankan dengan salah satu murid terbaiknya, Nyungsang Bungo. Petualangan dan persahabatan Butet dan Bungo harus menghadapi tantangan besar baik dari dunia luar, maupun dari dalam masyarakat Rimba sendiri. Film Sokola Rimba menyajikan dengan indah gambaran kehidupan salah satu masyarakat adat yang tinggal di pedalaman dan jarang digambarkan dalam film Indonesia.


'Saya sangat senang dengan difilmkannya buku Sokola Rimba ini. Saya berharap film ini dapat menyampaikan kepada masyarakat luas tentang perjuangan Orang Rimba dan komunitas-komunitas adat lainnya di pelosok Indonesia,' ungkap Butet Manurung, penulis buku Sokola Rimba.


Inspirasi untuk memfilmkan buku Sokola Rimba tercetus setelah Riri dan Mira membaca buku catatan pengalaman Butet tersebut. Kekaguman mereka terhadap Butet yang memiliki kepedulian yang sangat tinggi terhadap masyarakat marjinal di Indonesia dan keunikan kultur Orang Rimba inilah yang mendorong mereka memfilmkan Sokola Rimba.


'Saya sudah sering mendengar tentang suku Anak Dalam, yang sebenarnya lebih tepat disebut sebagai Orang Rimba, namun baru betul-betul memahami siapa dan bagaimana mereka hidup setelah membaca buku yang ditulis oleh Butet Manurung ini. Saya ingin pemahaman yang saya dapatkan dari pengalaman Butet juga dirasakan oleh masyarakat banyak,' ungkap Mira Lesmana.


'Saya merasa cerita ini bisa membawa kita ke sebuah pengalaman yang seru dan menarik dalam melihat sebuah komunitas masyarakat Indonesia yang berbeda dengan mayoritas kita umumnya. Mereka punya cita-cita yang tidak terlalu rumit dalam menjaga hidup mereka, semuanya masih didasarkan pada adat. Saya merasa mendapatkan ruang bermain yang asyik untuk membuat sebuah film,' tutur Riri Riza.


Film berdurasi 90 menit ini menampilkan Prisia Nasution sebagai Butet Manurung serta anak-anak Rimba dari Hutan Bukit Duabelas, Jambi. Sejak awal Mira dan Riri memang sudah memutuskan untuk mengajak anak-anak Rimba berperan dalam film ini. Menurut Mira, sangat dibutuhkan otentisitas dalam memerankan tokoh orang orang Rimba, yang mereka yakini akan sangat sulit dan butuh waktu panjang bila diberikan kepada aktor lain.


'Dari pengalaman bekerja dengan 'non-aktor' dan masyarakat asli suatu daerah seperti di film Laskar Pelangi dan film terakhir kami Atambua 39'C, kami yakin akan kemampuan mereka dalam berperan,' ujar Mira.


'Kami ingin membuat film yang baik dan mengajak warga Rimba untuk berpartisipasi di dalamnya,' ungkap Riri.


Untuk memerankan tokoh-tokoh dalam film Sokola Rimba, Mira dan Riri tetap melakukan proses casting untuk menemukan siapa yang tepat untuk memerankan tokoh yang tertulis dalam skenario.


'Dan menurut kami Prisia Nasution memiliki berbagai kelebihan untuk memerankan Butet Manurung. Selain kemampuan aktingnya yang tak perlu diragukan, secara fisik ia juga sangat cocok. Prisia memiliki kemampuan adaptasi yang sangat tinggi. Tidaklah mudah untuk bisa dengan cepat mempelajari bahasa Rimba dan juga untuk tinggal di hutan selama persiapan maupun syuting film ini,' ujar Mira.


Film Sokola Rimba menghabiskan waktu kurang lebih 3 bulan dari pra produksi sampai proses syuting selesai. Syuting film ini banyak mengambil lokasi di Kota Bangko kabupaten Merangin, Desa Transmigrasi SPG dan SPA, Kabupaten muara tebo serta Makekal hulu Hutan Duabelas, Jambi.


Hadirnya film ini diharapkan dapat menjadi tontonan yang bisa memberi pemahaman kepada masyarakat, kepada penonton khususnya untuk lebih mengenali lagi salah satu kehidupan masyarakat marjinal Indonesia yang sangat unik ini dan sekaligus merasa bangga pada kekayaan dan keragaman Indonesia kita. Film ini akan mulai diputar di bioskop pada 21 November 2013.


comments | | Read More...

Dari New York, Juara Siap Rambah Pasar Indonesia

Jakarta - Juara, merek perawatan kulit asal New York, Amerika Serikat (AS), yang dikreasikan berdasar tumbuh-tumbuhan berkhasiat dari Indonesia akan merambah pasar Tanah Air.


Juara yang berdiri sejak tahun 2005 terinspirasi oleh tumbuhan Indonesia, termasuk pengetahuan yang diwariskan turun-temurun, seperti jamu dan ritual kecantikan kerajaan kuno di Tanah Air.


Menurut Metta Murdaya, salah satu pendiri Juara, pihaknya mengembangkan produk berbahan dasar botani Indonesia karena keeksotisannya. 'Jamu itu unik dan powerful. Di AS, banyak orang yang tertarik menggunakan bahan-bahan yang eksotis untuk kecantikan. Kami pun ingin mengembangkan produk yang mengangkat heritage tetapi tetap menjunjung prestige. Kami percaya, menggunakan bahan-bahan jamu, kulit bisa menjadi juara melawan masalah yang jahat untuk kulit, seperti radikal bebas,' jelas Metta.


Ditekankan Metta, kunci dari keberhasilan produknya adalah ketertarikan masyarakat asing terhadap jamu. 'Jamu itu sangat exciting bagi orang asing. Kekayaan dan manfaat kecantikan tumbuhan di Indonesia sangat luar biasa. Ada romantisme di balik jamu,' tutur perempuan yang sudah 30 tahun lebih menetap di AS itu.


Produk Juara beragam, dari perawatan pelembap kulit wajah dan tubuh, masker wajah, krim mata, hingga minyak parfum. Semuanya terbuat dari ekstrak tumbuhan yang kerap ditemukan di ritual kecantikan Indonesia, seperti kemiri, kunyit, kopi, dan sebagainya. Namun, yang diambil adalah ekstraknya kemudian dicampur dengan zat-zat yang efektif untuk kecantikan kulit.


Meski cerita dan jiwa Juara berasal dari Indonesia, namun, proses pembuatan tidak dibuat di sini. 'Juara adalah produk yang berakar budaya Indonesia, tetapi diproduksi di AS. Kami memadukan produk alami dengan sains. Masyarakat asing lebih suka produk yang sudah melewati uji klinis. Sehingga untuk urusan pengetesan dan lebih murah, produknya diproduksi di AS karena tetap harus melewati tes kualitas yang ketat di sana untuk bisa dipasarkan,' jelas Metta.


Empat perempuan yang memulai bisnis ini sebagai sampingan, yakni Metta Murdaya, Yoshiko Roth-Hidalgo, Jill Sung, dan Tami Chuang kini menghabiskan waktu kerjanya total untuk Juara.


Juara pertama kali dikenalkan kepada masyarakat dan calon pembeli delapan tahun lalu lewat teknik penjualan dari pintu ke pintu. Seiring waktu, produknya mulai dikenal dan sudah digunakan oleh banyak orang, termasuk selebriti Hollywood, seperti Juliana Marguilles, Brooke Shields, dan sebagainya. Bahkan pihaknya didekati oleh perusahaan penerbangan AS, Delta Airlines untuk menaruh sampel produk Juara bagi penumpang kelas satu.


Kini, Juara telah memenangkan banyak hati, baik di AS maupun mancanegara, termasuk Indonesia. Juara sudah masuk ke Indonesia khususnya di Hotel Tugu, yakni hotel bintang lima di Bali. Diakui Metta, pihaknya sudah mulai melirik beberapa department store Indonesia untuk menjual produk-produknya. 'Namun saat ini kami sudah bisa didapatkan di beberapa toko online, juga bisa lihat produk kami di situs www.juarabeauty.com,' tuturnya.


Juara Skincare diperkenalkan kembali ke wartawan Indonesia saat menjadi sponsor untuk peragaan busana Ardistia New York di ajang Jakarta Fashion Week 2014. 'Saya kenal Ardistia di NY. Kami bertemu di NY Fashion Week. Kami memiliki visi, style, dan target yang sama. Juara melihat Ardistia sebagai 'Perempuan Juara', karena ia stylish, kerja keras, dan menjalankan passion serta mimpinya,' kata Metta Murdaya, pendiri Juara Skincare, di tenda Jakarta Fashion Week, Senin (21/10).


comments | | Read More...

Menuju Ikon IT di Kalimantan

Penulis : Citey Soe on Sunday, October 20, 2013 | 10:07 PM

Sunday, October 20, 2013

BATAM - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) menunjukkan perhatian serius untuk pengembangan bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Daerah ini telah beberapa kali melakukan kerja sama dengan pihak lain. Salah satunya, dengan Pusat Teknologi Informasi Badan Pengusahaan (BP) Batam, yang ditandai penandatanganan nota kerja sama antara Bupati Kukar Rita Widyasari dengan Kepala BP Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam, Mustafa Widjaya. Selain dengan Pusat Teknologi Informasi BP Batam, Kukar juga menjalin kerja sama dengan PT Telkom Indonesia Wilayah Kaltim Tengah, yang penandatanganannya dilakukan secara bersamaan di Gedung IT Center BP Batam, Kamis (17/10) lalu. Acara dihadiri Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi Kukar H Surip beserta jajaran, perwakilan Bappeda Kukar, dan jajaran Pusat Teknologi Informasi BP Batam, yang diliput beberapa media cetak maupun elektronik setempat. Dalam sambutannya, Bupati Rita mengatakan kerja sama dengan BP Batam ini terkait implementasi, pengembangan, dan pemulihan pusat data serta peningkatan sumber daya manusia. Sedangkan, kerja sama dengan PT Telkom Indonesia terkait implementasi Kukar dalam digital society. Lebih lanjut Rita mengungkapkan, saat ini Kukar telah membangun 22 unit tower BTS (base transceiver station) dan SST di 18 kecamatan, 2 repeater yang dilengkapi 24 mesin genset dengan daya 12 kilovolt ampere (KVA), serta 2 mesin genset di 2 titik repeater tersebut. Plus, jaringan fiber optic (FO) yang terhubung ke semua SKPD di Tenggarong, serta di Kota Tenggarong sendiri sejauh 15 kilometer. Selain itu, juga Voice Over IP di 38 SKPD dan 18 kecamatan. 'Kami juga memberikan layanan free hotspot untuk masyarakat sepanjang 15 kilometer, yang kami tempatkan di lokasi sepanjang turapan Sungai Mahakam. Di mana, biasanya masyarakat bersantai pada sore dan malam hari,' terang Rita. Ke depan, lanjut bupati, Kukar akan membangun Pusat Informasi dan Teknologi atau IT Park di bekas kawasan Perumahan Tanjung yang saat ini dalam proses pembebasan. Oleh karena itu, penandatanganan kedua kesepakatan di Batam tersebut merupakan momentum yang sangat penting. Setelah penandatanganan ini, Rita berharap kepala BP Batam dapat memberikan back up atas data center Pemkab Kukar, sekaligus meningkatkan kualitas SDM di bidang ini. Dan, kepada PT Telkom, agar dapat membantu dan berperan aktif dalam memasang fasilitas wifi yang dapat dimanfaatkan masyarakat umum. 'Saya berkeinginan dengan kerja sama ini Kukar nantinya akan menjadi ikon baru di bidang IT di Kalimantan khususnya, dan Indonesia umumnya, seperti Batam, bahkan kalau bisa lebih,' harap Rita. Setelah penandatanganan naskah kerja sama, kedua belah pihak saling bertukar cenderamata. Kemudian dilanjutkan peninjauan ke ruang pusat data center. Yang unik, sebelum masuk ruang ini, diharuskan mengganti alas kaki dengan sandal karet yang telah disediakan. Menurut pengelolanya, hal itu demi keamanan untuk menghindari rambatan aliran listrik di tubuh manusia.(hmp12/zal)


comments | | Read More...

T50i Golden Eagle menuju "World Class Air Force"

Penulis : Citey Soe on Tuesday, October 15, 2013 | 7:21 AM

Tuesday, October 15, 2013

T50i Golden Eagle menuju "World Class Air Force"ANTARABagi TNI AU, kehadiran Golden Eagle itu memiliki arti khusus karena akan mendekatkan cita-cita dan visi mereka pada predikat World Class Air Force, sejalan peta jalan pertahanan Indonesia melalui TNI yang menetapkan pada 2014 sudah berada pada status ...
comments | | Read More...

Lifya, potret kegigihan guru pendidikan luar biasa

Lifya, potret kegigihan guru pendidikan luar biasaANTARASetelah lulus dari SGPLB pada tahun 1987, Lifya diberi arahan kepala sekolah untuk melanjutkan kuliah di Jurusan Pendidikan Luar Biasa Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung atau saat ini dikenal dengan Universitas Pendidikan Indonesia.
comments | | Read More...

Nidji Wakili Indonesia Tampil di Sundown Festival Singapore

Penulis : Citey Soe on Monday, October 14, 2013 | 12:23 AM

Monday, October 14, 2013

Jakarta - Sebanyak 10 penampil, yang terdiri dari musisi/penyanyi maupun grup dari delapan negara Asia, siap menjadi tontonan utama di Sundown Festival Singapore 2013. Ajang tahunan pertunjukan musik yang dipadu sajian budaya dan makanan ini, tahun ini akan digelar pada Sabtu, 16 November, di Marina Promenade, Singapura.


Menariknya, untuk kali ini akan ada penampil dari Indonesia yang bisa ditonton, yaitu grup band Nidji. Ini memang kali pertama penampil asal Indonesia, begitu juga dari Thailand dan Filipina, diundang tampil di ajang yang memasuki tahun kelima ini. Dari Thailand sendiri akan ada grup No More Tear, sementara mewakili Filipina ada Rock Steddy, serta Rico Blanco.


Dijadwalkan berlangsung selama 8 jam sejak sekitar pukul 3 sore, penampil lainnya di ajang ini adalah band Screw dan D=OUT (asal Jepang), Ace of Angels/AOA (Korsel), Adonia Shao Yu Han (Tiongkok), Yoga Lim (Taiwan), serta Bosco Wong (Hong Kong). Lebih dari itu, makanan-makanan unik dan lezat asal negara-negara tersebut pun akan mewarnai festival ini, selain juga atraksi budaya dari beberapa negara, semisal Barong dari Indonesia atau Muay Thai-nya Thailand.


'Tahun kelima Sundown Festival adalah sebuah pencapaian penting,' ungkap Samantha Chan, direktur festival ini, melalui rilisnya beberapa hari lalu.


'Kami telah menetapkan target sederhana: menghadirkan deretan bintang-bintang musik rock dan pop Asia dalam pertunjukan terbaik di kawasan ini; sebuah pertunjukan yang hanya dapat dilihat dunia di Singapura,' sambungnya.


'Dan itulah yang selama ini telah kami lakukan. Pertunjukan yang kami hadirkan tahun ini akan mengguncang Anda, membuat kita bangga sebagai orang Asia, serta membuktikan lagi bahwa tak ada tempat lebih mengasyikkan ketimbang Marina Promenade pada tanggal 16 November nanti,' beber Samantha.


Akan bagaimana penampilan Nidji di Sundown Festival ini kelak? Silakan ditunggu saja kabarnya. Sementara, bahwa festival dengan tagline 'Asia yang Bersatu, Asia yang Lebih Baik' ini bakal berlangsung heboh, pihak panitia pun telah menjaminnya.


comments | | Read More...

Popular posts

 
Home
Copyright © 2013. Berita Unik Indonesia . All Rights Reserved.